"Mbak ada orderan barang ntuk minggu depan ?" salah satu seles distributor obat menawarkan orderan barang nya kepadaku, belum sempat ku jawab tanya nya ia lalu memberikan aku pertanyaan lagi "kalo begitu berapa nomor pin BB kamu mbak?". sontak aku kaget dan tak percaya, masih ada orang yang berani menyakan hal menurut aku itu pribadi.
"Untuk apa pin BB aku ?? aku kasih pin Mas Opik saja yahh, nanti langsung tanyakan orderan barang ke beliau" ujarku dengan nada kesal. dan lelaki muda itupun kembali menyakan hal yang membuat aku terkejut. "kenapa bukan pin BB nya mbak saja biar lebih gampang, toh Mas Opik juga engga ada kan?". malas dengan sejuta akal bulus nya dia lewat perkataan nya akhir nya ku berikan pin BB ku kepadanya.
Seperti biasa handphone ku berdering sesekali jika hanya ada SMS dari Operator dan BBM pun hanya dari pesan siaran baru, menyebalkan memang. Setelah aku berpisah dengan Rifky rasanya tak ada gunanya lagi berada dalam dunia yang fana, tapi mau tidak mau harus aku jalanin ini sekuat dan semampu aku untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Delapan puluh lima hari tanpa sosok nya lagi membuat aku merasa cukup untuk menyayangi seseorang, Saat aku tau semua apa yang terjadi hati aku semakin Yakin untuk tidak mengenal apa itu Cinta.
Nada BBM di HP pun bunyi, ku kira pesan yang tidak penting, isi chat nya nama seseorang yang asing bagiku. Febry ?? hatiku bertanya-tanya sejak kapan ada nama asing dalam kontak ku ?
"Neng ada orderan kah buat saya di Apotek eneng ?"
"oh, belum ada mas"
"Ok, Terimakasih yah"
Percakapan yang terlalu singkat, tak terlalu membuatku tertarik akan sosok nya. Jum'at sore saat aku ingin pulang kerumah sosok Febry datang ke Apotek. Dia datang dengan sejuta pertanyaan yang ada dalam fikiran ku, senyum nya menggambarkan betapa bahagia nya ia berada dalam Apotek yang sekecil ini, matanya sangat tajam ketika melihat sosok diriku. Dan aku hanya terpaku melihat tingkah nya yang sedikit aneh dan tak wajar.
Setelah tiga minggu berturut-turut aku sering menjumpainya di Apotek tak sengaja ku beranikan diriku untuk memandang sosok nya lebih dekat, alis nya yang mirip dengan sosok Rifky ada dalam dirinya, senyum dan raut wajah nya kembali mengingatkan aku kepada sosok yang telah mematahkan hati ini, iyah Rifky. Hanya saja Febry lebih terlihat dewasa dan tenang.
Hampir dua minggu tak ku jumpai sosok Febry di Apotek, dengan rasa penasaran akhir nya ku beranikan diri untuk menanyakan sosok nya "Mas, seles distributor Kimia Farma kalo dateng kapan yah ?" tanya ku ke Mas Opik rekan kerja sekaligus atasan di Apotek. "nanti sore juga dateng, emang nya kenapa ?" aku hanya tersenyum membalas pertanyaan Mas Opik.
"Tuh seles nya dateng pril" seketika itu pula untuk kali pertama nya aku merasakan hal aneh, entah itu apa rasanya bahagia dalam diri ini yang tak mampu ku ungkapkan membuat diriku diam dan terpaku.
"ada apa ? Mba mencari saya kah ?" seles itupun melontarkan pertanyaan yang sangat sulit sekali aku jawab dan hanya bisa aku tunjukan dengan gerak tubuh yang tak wajar, aku mengatur emosi dalam tubuh ini agar segera normal, suhu tubuh yang mendadak dingin segera aku sembunyikan dengan sikap yang sok tenang. dan lagi-lagi aku hnaya bisa menjawab dengan gelengan kepala tanpa ada satu patah katapun yang keluar dari mulutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar